Saturday, February 20, 2016

Ngeblog Dengan Kualitas Atau Kuantitas?

Dari zaman dulu, perbincangan mengenai kualitas dan kuantitas memang menyenangkan. Bahkan problem kualitas dan kuantitas ini terjadi dalam banyak hal. Salah satunya yakni dalam hal menulis, dalam kasus ini yakni kegiatan ngeblog.

Dulu, aku termasuk orang yang memuja dan lebih mementingkan problem kualitas dalam menulis. Hingga karenanya aku sadar, bahwa kualitas yang baik itu ternyata ditentukan oleh kuantitas juga. Pasti kau resah 'kan? Baiklah akan aku jelaskan maksud dari pernyataan aku tersebut.

Apa sih yang menciptakan sebuah artikel dikatakan berkualitas bagus? Baiklah mari kita runut dari awal. Artikel yang manis yakni artikel yang bisa menyediakan info secara lengkap. Bahasanya gampang dipahami. Dan yang penting yakni artikel tersebut menuntaskan permasalahan orang yang membacanya, orang tersebut tiba dari pencarian Google dengan kata kunci relevan yang ada di artikel tersebut.

Nah, dari poin pertama, artikel berkualitas mengandung info yang lengkap. Kata "informasi yang lengkap" sendiri sudah menawarkan kuantitas. Tidak percaya? Informasi yang lengkap ternyata harus memenuhi seruan 5W+1H. Jika memang sebuah artikel memenuhi 5W+1H, aku yakin panjang artikel itu bisa hingga seribu kata. Dan jumlah seribu kata untuk tataran sebuah artikel di blog sudah cukup banyak. Mengingat biasanya artikel di sebuah blog mempunyai standar sekitar 300 kata hingga 500 kata.

Dan menyerupai yang aku bilang sebelumnya, bahwa sesungguhnya kualitas itu ditentukan oleh kuantitas juga. Bahkan yang paling menakjubkan, ada blogger luar negeri kenamaan, namanya Neil Patel, beliau selalu menulis artikel di blog-nya minimal empat ribu kata. Bayangkan, empat ribu kata! Dan beliau mengulas satu judul dengan ulasan yang sangat menarik. Dia menyediakan banyak data dan kesimpulan-kesimpulan dari pengamatannya. Dan aku yakin semua blogger yang membacanya setuju menyampaikan bahwa artikel yang dibentuk oleh Neil Patel itu sangat berkualitas, walau kadang yang membaca belum paham maksud dari ulasan di artikel itu.

Itu dari blogger luar negeri. Dari blogger dalam negeri, aku pernah membaca goresan pena salah satu pendiri Blogger Perempuan, Shinta Ries. Dia menulis artikel sebanyak empat ribu kata juga. Dan sialnya, artikel empat ribu kata itu masih punya lanjutan. Jadi, berapa ribu kata lagi yang harus aku baca untuk menuntaskan satu pembahasan? Entahlah. Dan artikel dengan kata sebanyak itu tidak akan kau sadari saat membacanya. Karena memang beliau mengulaskan dengan gaya menulis yang asyik dan tidak membosankan. Sebenarnya sih lebih ke arah goresan pena yang informatif. Kaprikornus sepanjang apapun tetap menarik dan selalu ingin tahu lebih banyak.

Saya pun sesungguhnya ingin mencoba menulis artikel sebanyak empat ribu kata. Namun, aku belum bisa melaksanakan itu. Rekor yang aku buat, aku menulis artikel sekitar dua ribu lima ratus kata saja. Saya harus lebih banyak berlatih. Dan yang terpenting yakni menulis dengan pertolongan data yang aku sanggup dari membaca dan mencoba-coba.

Kembali lagi ke judul, jadi manakah yang manis menulis dengan kualitas ataukah dengan kuantitas. Saranku yakni menulislah dengan kuantitas. Karena dengan banyak menulis, kemampuan menulis akan terasah dan kau akan mencicipi sensasi stres gres saat kau punya sasaran jumlah kata dalam tulisan. Jangan hingga kau berasumsi bahwa tulisanmu sudah berkualitas dengan jumlah kata yang pas-pasan. Boleh jadi kau menganggapnya berkualitas, padahal faktanya tidak. Jangan melihat tulisanmu menyerupai ibu melihat bayinya sendiri. Apa maksudnya? Ya coba kau lihat sendiri bagaimana ekspresi seorang ibu melihat bayinya sendiri, beliau merasa bahwa bayinya lah yang paling keren. Difoto dan di-share sana-sini, padahal orang lain yang melihatnya merasa biasa saja.
Sumber https://www.iskael.com/


EmoticonEmoticon